seorang atheis yang hidup seorang diri
di dunia yang makin kejam
tak ada teman, tak punya Tuhan
kebingungan, tak tahu harus berbuat apa
serba salah
seorang atheis yang hidup sendiri
di dalam kepalanya
banyak sekali pertanyaan yang berkelebat
"Siapakah Aku ?
Untuk apakah Aku hidup ?
Kemanakah Aku ketika mati ?
Apa yang terjadi ketika Aku Mati ?"
tapi semua nihil
tak dapat jawaban, hanya angin menderu
seorang atheis yang hidup penuh dengan logika
mulai berteriak frustasi
"Hey semua, mengapa aku tak tahu siapakah aku ?
mengapa aku tak tahu kenapakah aku ada ?
siapakah yang menciptakan aku ?
siapakah dalang dari semua ini ?"
selaksa pertanyaan lagi merasuki pikirannya
untuk ke sekian kali ia tak dapat menjawabnya
"Mengapa aku tak tahu ?
Aku mengerti segala teori rotasi jagad raya
Aku mengerti segala teori perubahan alam
tapi mengapa Aku tak tahu untuk apa aku hidup ?
mengapa ? mengapa ? mengapa ?"
seorang atheis yang mulai frustasi
berharap menemukan jawaban dari pertanyaannya
berharap bertemu seseorang yang fasih
yang mengerti akan kegundahannya
yang mengerti akan kerisauannya
yang mengerti akan kebimbangannya
yang dapat menjawab semua pertanyaannya
maka tibalah Hidayah-Nya kepadanya
bagaikan turunnya hujan ditengah gurun pasir
menyejukkan hati dan mulai menjawab semuanya
bagaikan cahaya bulan ditengah gelapnya malam
menyinari setitik kegelapan dengan pelita yang hangat
bagaikan hembusan nafas seorang ibu kepada putranya
menemani dikala malam larut.
dikala angin kencang.
dikala roda kehidupan berputar.
dikala mendapatkan derita.
dikala mendapatkan nikmat.
seorang atheis yang mualaf
bersyukur tidak terjerumus selamanya didalam gua
tidak terkurung selamanya dalam penjara
tidak terhadang dengan silangan bambu
sekarang
seorang atheis yang frustasi tak ada lagi
hanyalah mualaf yang bersyukur akan arti hidup ini
Jakarta, 27 Agustus 2009
*G
No comments:
Post a Comment